Pemuridan, Kecerdasan Buatan, dan Persoalan Pembentukan Rohani

Apakah AI bencana bagi pemuridan?

Kecerdasan buatan (AI) dengan cepat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. AI tidak hanya hadir melalui ChatGPT, tetapi juga dalam ketel listrik dan penyedot debu kita. (Jika Anda belum memiliki penyedot debu berteknologi AI, Anda ketinggalan. Namun, bisa jadi tidak lama lagi penyedot debu itu justru akan membunuh kita!) Kini, AI membentuk cara orang menulis, mencari informasi, membuat rencana, serta semakin memengaruhi cara mereka berefleksi, mengambil keputusan, dan mencari hikmat maupun ketenangan. Bagi gereja, ini bukan sekadar perkembangan teknis, melainkan perkembangan yang ikut membentuk kita dan patut diwaspadai. Pertanyaan yang perlu diajukan dalam pemuridan bukanlah apakah AI bekerja, melainkan AI diam-diam sedang membentuk kita menjadi orang seperti apa.

Pemuridan Kristen selalu berurusan dengan pembentukan, bukan sekadar informasi. Yesus tidak mengundang orang untuk menguasai pengetahuan, tetapi untuk mengikuti-Nya dan belajar menjalani kehidupan yang dibentuk oleh ketaatan, kasih, dan kesetiaan. Pembentukan lebih utama daripada informasi. Setiap kali teknologi baru hadir, tugas untuk menguji dan menimbangnya dengan bijaksana bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Dalam sejarah, gereja kerap cenderung menganggap teknologi baru sebagai sesuatu yang jahat. Salah satu contohnya adalah organ gereja. Pada mulanya, banyak orang menganggapnya seolah-olah iblis sedang memasuki gereja. Kemudian, gitar dan layar proyektor pun mengalami penolakan serupa. Sampai sekarang, kita masih membandingkan Alkitab "sungguhan" dengan aplikasi Alkitab, seakan-akan hanya Alkitab berbahan kertas yang merupakan firman Tuhan yang sejati. Saya harus mengakui bahwa saya sendiri pun terkadang bersikap demikian.

Kitab Suci berulang kali memperingatkan bahwa apa yang terus kita tekuni dan beri tempat dalam hidup pada akhirnya akan membentuk kita: "Karena di tempat hartamu berada, di situ juga hatimu berada" (Matius 6:21, AYT). Karena itu, kita perlu bertanya: apa yang sedang membentuk hati kita?

Pedoman sederhana bagi pemuridan

AI menunjang pemuridan ketika AI mendukung pembelajaran tanpa menggantikan proses mendengarkan, memperkuat komunitas alih-alih menggantikannya, serta meningkatkan kemampuan kita untuk hidup dalam kesetiaan, kasih, dan pelayanan. AI menjadi berbahaya secara rohani ketika menggantikan doa dengan produktivitas, komunitas dengan simulasi, dan ketaatan dengan peneguhan. Dalam keadaan seperti itu, masalah utamanya bukanlah teknologi, melainkan pembentukan rohani.

Pertanyaan utama dalam pemuridan tetap sama: siapa atau apa yang sedang mengajar kita untuk hidup seperti Yesus?

1. Tempat AI dalam pemuridan

Pemuridan bertujuan menolong orang bertumbuh dalam kasih kepada Allah dan sesama, belajar memperhatikan tuntunan Roh Kudus, serta mempraktikkan ketaatan dalam kehidupan sehari-hari. Pemuridan menolong kita mengasihi dan menaati Allah dengan akal budi, hati, dan tindakan. Setiap teknologi yang membantu mencapai tujuan tersebut dapat diterima dengan rasa syukur, tetapi hanya sebagai pelayan, bukan penuntun. AI dapat mendukung pembelajaran secara nyata. AI dapat membantu orang memperoleh informasi latar belakang, menyusun bahan pembelajaran, dan berkomunikasi dengan lebih jelas. Bagi orang-orang yang bergumul dengan rasa percaya diri, kemampuan literasi, atau keterampilan mengatur sesuatu, AI dapat mengurangi hambatan yang mungkin menyulitkan keterlibatan mereka. Dalam pengertian ini, AI dapat berfungsi sebagai alat referensi atau asisten -- berguna, tetapi terbatas.

Inserted image

Bahaya muncul ketika bantuan berubah menjadi pengganti. Pemuridan tidak dapat dipersempit menjadi kejelasan, kecepatan, atau produktivitas. Kitab Suci selalu mengingatkan bahwa pembentukan berlangsung lambat dan sering kali menuntut pengorbanan. Paulus berkata, "berubahlah oleh pembaruan akal budimu" (Roma 12:2, AYT). Proses ini melibatkan pergumulan, penyerahan diri, dan waktu. Ketika AI menggantikan praktik-praktik yang membutuhkan kesabaran dan ketergantungan, AI tidak lagi sekadar membantu pemuridan, tetapi membentuknya kembali. Persoalan yang lebih dalam bukan hanya penggantian, melainkan ketergantungan. Peringatan yang sama berlaku terhadap pengaruh tunggal apa pun, baik podcast, pemimpin gereja, kelompok kecil, maupun terjemahan Alkitab favorit. Pemuridan selalu menuntut agar kesetiaan kita tidak bertumpu pada satu alat atau suara saja, sehingga Kristus tetap menjadi pusatnya.

2. Bahaya AI sebagai sahabat rohani

Salah satu kekhawatiran paling serius adalah penggunaan AI sebagai sumber pendampingan rohani. Saya semakin sering mendengar orang berkata bahwa mereka "mengobrol dengan AI" untuk meminta pandangannya tentang hubungan, pernikahan, keuangan, seksualitas, dan persoalan yang lebih dalam seperti kesehatan mental. Banyak orang kini beralih kepada AI untuk memperoleh ketenangan, bahan refleksi, atau bimbingan, terutama ketika doa terasa sulit atau komunitas terasa jauh. Bahkan, mungkin saya perlu mengatakannya terus terang: kita beralih kepada AI ketika ingin menjaga jarak dari komunitas. Daya tariknya jelas. AI selalu tersedia, tidak pernah kehilangan kesabaran, dan terus memberikan peneguhan. AI dapat -- dan sering kali memang -- mengiyakan penggunanya, tetapi tidak dapat mengambil alih pertimbangan etis kita. Telah diamati bahwa sistem AI dirancang untuk menyenangkan pengguna, terkadang bahkan dengan mengorbankan kebenaran. Hubungan dengan Allah tidak dibangun di atas sanjungan atau penguatan semata, melainkan di atas kekudusan, teguran, dan kasih perjanjian yang membentuk kita melampaui keinginan pribadi.

Kitab Suci secara konsisten menempatkan pembentukan rohani dalam hubungan yang melibatkan kebenaran, kasih, dan pertanggungjawaban. Hikmat dalam Alkitab bersifat relasional dan moral, bukan sekadar reflektif. Amsal 27:6 berkata, "Seorang kawan memukul dengan maksud baik." AI tidak dapat melukai dalam pengertian tersebut karena AI tidak dapat mengasihi. Karena itu, AI tidak dapat menyampaikan kebenaran dengan menanggung harga atau risiko bagi dirinya sendiri.

Persoalan lain menyangkut otoritas. AI berbicara dengan penuh keyakinan, tetapi tidak memikul tanggung jawab atas kehidupan yang dibentuknya. AI tidak tunduk kepada Kitab Suci, tidak menjadi bagian dari tubuh Kristus, dan tidak berada di bawah pertanggungjawaban pastoral. Ketika murid-murid Kristus mulai memperlakukan AI sebagai suara rohani yang dapat dipercaya, pola pembentukan mereka perlahan bergeser. Mereka tidak lagi terutama diajar oleh Allah melalui Kitab Suci dan komunitas, tetapi mencari peneguhan dari sistem yang tidak dapat memanggil siapa pun kepada pertobatan atau ketaatan. AI juga dapat salah mengutip Kitab Suci atau meremehkan maupun melebih-lebihkan pokok-pokok yang disampaikannya.

3. Apa yang tidak dapat ditumbuhkan AI -- Menjumpai Allah dalam kehidupan sehari-hari

Pemuridan Kristen melatih kepekaan terhadap Roh Kudus. Kitab Mazmur berulang kali berbicara tentang menanti, mendengarkan, dan berjaga-jaga. "Diam dan ketahuilah bahwa Aku adalah Allah" (Mazmur 46:10, AYT) bukanlah teknik, melainkan sikap hati. Sebagian besar pembentukan rohani kita berlangsung dalam keheningan, ketidakpastian, dan kesetiaan dalam hal-hal sederhana. AI cenderung bekerja berlawanan dengan pola ini karena AI mengisi keheningan, memberikan jawaban atas ketidakpastian, dan meniadakan penantian. Jika hanya digunakan sesekali, hal ini mungkin tidak berbahaya. Namun, jika digunakan sebagai kebiasaan, AI dapat membentuk ulang naluri kita. Alih-alih belajar berdoa, orang belajar menulis perintah (prompt). Alih-alih bergumul dengan Kitab Suci, mereka mencari ringkasannya. Seiring waktu, kebiasaan ini dapat melemahkan praktik-praktik yang biasanya Allah gunakan untuk membentuk umat-Nya.

Pemuridan tidak dibentuk oleh masukan yang terus-menerus, melainkan oleh perhatian yang terus terarah kepada Roh Kudus. Elia tidak menjumpai Allah dalam angin, gempa bumi, atau api, tetapi dalam "bunyi angin sepoi-sepoi basa" (1 Raja-raja 19:12). Alat yang menyingkirkan keheningan dan menyajikan informasi instan seperti makanan cepat saji tanpa sengaja dapat membuat kepekaan tersebut semakin sulit dipelajari.

4. Apa yang AI ungkapkan tentang kemanusiaan

AI tidak hanya mengungkapkan sesuatu tentang teknologi, tetapi juga tentang asumsi-asumsi kita. AI memperlihatkan betapa mudahnya kita menyamakan kecerdasan dan informasi dengan hikmat. Kita dapat memiliki informasi di ujung jari, tetapi tidak memiliki hikmat dalam kehidupan. AI dapat menghasilkan bahasa yang menyerupai doa tanpa benar-benar berdoa, refleksi teologis tanpa iman, dan penalaran moral tanpa hati nurani. Kitab Suci memberikan gambaran yang berbeda tentang manusia. Manusia tidak terutama ditentukan oleh kemampuan berpikir, melainkan oleh relasi. Kita diciptakan menurut gambar Allah untuk mengasihi, mengelola ciptaan-Nya, dan hidup di hadapan-Nya. "Firman itu telah menjadi daging dan tinggal di antara kita" (Yohanes 1:14, AYT) mengingatkan kita bahwa Allah berelasi dengan manusia secara berwujud, bukan secara abstrak.

Pemuridan selalu menuntut agar kesetiaan kita tidak bertumpu pada satu alat atau suara saja, sehingga Kristus tetap menjadi pusatnya.

AI dapat meniru ekspresi manusia tanpa memiliki kerentanan, tanggung jawab, atau pengharapan manusia. Dalam pemuridan, kita harus mengingat bahwa pembentukan bukanlah tentang menghasilkan kata-kata yang benar, melainkan menjadi umat yang dibentuk oleh kehidupan Kristus. Di sinilah gereja harus mengingat panggilannya: bukan bersaing dengan teknologi, melainkan berkumpul, saling menguatkan, dan saling mendorong dalam kasih dan perbuatan baik, sebagaimana diingatkan dalam Ibrani 10:24-25. Manusia selalu bergantung pada sistem dan struktur. Namun, tugas kita tetaplah mengarahkan orang melampaui setiap alat kepada Allah yang hidup.

5. Hikmat, otoritas, dan kemampuan membedakan

Alkitab membedakan pengetahuan dan hikmat dengan jelas. Pengetahuan dapat dikumpulkan, tetapi hikmat dipelajari melalui ketaatan. Kitab Suci berkata, "Takut akan TUHAN adalah permulaan hikmat" (Amsal 9:10, AYT). Pernyataan ini menempatkan hikmat dengan tegas dalam relasi dengan Allah.

AI dapat membantu menyediakan informasi, tetapi tidak dapat menumbuhkan hikmat. Bahkan, platform AI yang secara khusus berlabel Kristen tetap dibentuk oleh masukan manusia sehingga membawa bias manusia. Hikmat mencakup kesadaran akan keterbatasan tersebut dan pengakuan bahwa tidak ada otoritas yang berada di atas firman Tuhan. Meski demikian, berbagai alat dapat membantu kita memelajari Kitab Suci dari beragam sudut pandang. Hal ini sejalan dengan Amsal 18:15 (AYT), "Hati orang berpengertian memperoleh pengetahuan, dan telinga orang berhikmat mencari pengetahuan." AI tidak takut akan Allah, tidak tunduk kepada Kitab Suci, dan tidak menanggung harga ketaatan. Ketika murid-murid Kristus bergantung pada AI untuk membentuk kerangka moral atau memberikan penilaian rohani, mereka berisiko menyamakan jawaban yang masuk akal dengan kebenaran dan nada yang penuh keyakinan dengan otoritas.

Daya membedakan dalam kehidupan Kristen dibentuk melalui Kitab Suci, doa, dan kehidupan dalam tubuh Kristus. Paulus menggambarkan gereja sebagai tempat untuk menyampaikan kebenaran dalam kasih agar orang-orang semakin bertumbuh dalam Kristus (Efesus 4:15). Tidak ada sistem, betapapun canggihnya, yang dapat menggantikan proses bersama yang disertai pertanggungjawaban tersebut.

6. Apakah AI itu 666?

Tidak mengherankan jika gereja mengajukan pertanyaan semacam ini setiap kali teknologi baru muncul. Pertanyaan tentang apakah AI melambangkan bilangan binatang mencerminkan kecemasan yang dapat dipahami, tetapi sering kali muncul dari pemahaman yang keliru tentang maksud Kitab Wahyu. Perdebatan serupa pernah terjadi ketika kode batang mulai digunakan.

Kitab Wahyu tidak terutama berfokus pada upaya mengenali teknologi masa depan, melainkan menyingkapkan sistem-sistem yang menuntut kesetiaan dan membentuk ulang identitas manusia dalam perlawanan terhadap Allah. Binatang itu melambangkan kekuasaan manusia yang diangkat ke kedudukan tertinggi serta menjanjikan keamanan, kendali, dan kemakmuran tanpa kesetiaan kepada Allah. AI bukanlah binatang itu. Namun, AI dapat mengambil bagian dalam pola serupa ketika dipercaya tanpa sikap kritis, dianggap memiliki otoritas, atau dibiarkan membentuk kebiasaan kesetiaan dan ketergantungan.

Bahaya yang disorot Kitab Wahyu bukanlah tanda yang terlihat, melainkan pola pikir yang telah terbentuk sedemikian rupa sehingga tidak lagi mengetahui kepada siapa kesetiaan sejatinya harus diberikan.

Penutup

Gereja tidak perlu takut terhadap kecerdasan buatan, tetapi harus menolak pemakaiannya tanpa pertimbangan. Orang Kristen selalu menggunakan berbagai alat, tetapi pemuridan tidak pernah dibentuk oleh alat semata. Pemuridan dibentuk melalui penyembahan, ketaatan, penderitaan, komunitas, dan karya Roh Kudus.

AI dapat membantu murid-murid Kristus, tetapi tidak boleh menjadi pengganti pemuridan. Pertanyaannya bukanlah apakah AI itu kuat, melainkan apakah dalam menggunakannya kita masih belajar mendengarkan, menanti, dan mengikut Kristus. (t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs:Making Disciples
Alamat artikel:https://wearemakingdisciples.com/discipleship-artificial-intelligence-and-the-question-of-spiritual-formation/
Judul asli artikel:Discipleship, Artificial Intelligence, and the Question of Spiritual Formation
Penulis artikel:Cris Rogers